Search
  • Gandasari Ekasatya

ANTIBODY DEPENDENT ENHANCEMENT ( ADE )

LATAR BELAKANG

Seperti yang telah diketahui publik, pemerintah Indonesia akan segera memulai proses vaksinasi COVID-19 bagi masyarakat luas. Disamping membawa kabar gembira bagi masyarakat, vaksinasi tersebut juga membawa dampak buruk berupa suatu fenomena yang disebut Anyibody – Dependent Enhancement (ADE).

ADE telah menjadi perhatian utama terhadap epidemiologi, pengembangan vaksin, dan terapi obat berbasis antibodi (1). Infeksi virus dimulai dengan perlekatan partikel virus ke membran sitoplasma pada permukaan sel, suatu proses di mana protein permukaan virus mengikat secara unik ke reseptor spesifik pada sel inang. Untuk memblokir keterikatan virus ini ke sel target, antibodi yang menargetkan protein permukaan virus secara khusus disekresikan, yang mengikat dan menetralkan virus, melemahkan kemampuan infektifnya. Namun, pada beberapa virus, pengikatan antibodi spesifik ke protein permukaan virus dapat mendorong invasi virus ke dalam jenis sel tertentu, dan meningkatkan infeksi virus. Efek ini disebut Antibody Dependent Enhancement (ADE) (3).




PENYEBAB

ADE disebabkan oleh peningkatan replikasi virus yang menginfeksi makrofag termasuk virus dengue dan feline infectious peritonitis virus (FIPV) yang menginfeksi kucing (2).

ADE terjadi dalam dua kasus utama:

1. ketika antibodi spesifik virus mendorong masuknya virus ke dalam monosit / makrofag dan granulosit inang

2. ketika ADE meningkatkan infeksi virus dalam sel melalui interaksi dengan reseptor Fc (FcR) dan / atau komplemen reseptor (3).


DAMPAK

ADE telah diamati dan dipelajari secara ekstensif pada falvivirus, terutama dengue. Pada virus ini, infeksi primer menyebabkan produksi antibodi subneutralisasi atau non-netralisasi untuk infeksi virus sekunder. Dimana antibodi ini tidak dapat sepenuhnya menetralkan infeksi virus sekunder tetapi justru memandu partikel virus untuk memasuki sel pengekspres reseptor Fc. ADE dapat memperburuk gejala pada infeksi virus sekunder, ADE juga menjadi perhatian utama untuk desain vaksin dan terapi obat berbasis antibodi (1).

Salah satu rintangan untuk vaksin dan terapi berbasis antibodi adalah resiko memperburuk COVID-19 melalui peningkatan ketergantungan antibodi (ADE). ADE dapat meningkatkan keparahan beberapa infeksi virus, seperti Respiratory syncytial virus (RSV) dan campak. ADE pada infeksi saluran pernafasan lebih luas dapat menyebabkan Enhanced respiratory disease (ERD) (2).


ADE PADA PASIEN TERINFEKSI COVID-19

Pasien dengan gejala menunjukkan titer antibodi anti SARS-CoV-2 yang lebih tinggi. Penelitian lain menunjukkan bahwa Anti SARS-CoV-2 respons sel T dapat ditemukan pada pasien dengan cakupan klinis yang luas, sedangkan titer antibodi yang kuat lebih mendeteksi keganasan COVID-19 (2).


SOLUSI ADE PADA INFEKSI COVID-19

ADE pada infeksi virus corona dapat diminimalisir dengan beberapa cara :

1. Mengontrol dosis

Antibodi dosis tinggi dapat menghambat ADE di MERS-CoV tanpa memengaruhi kemampuan antivirusnya (Wan et al., 2020).

2. Mengubah target antibodi

Walaupun memblokir pengikatan protein spike virus corona adalah pendekatan terapeutik yang baik karena efisiensinya yang tinggi dalam mengurangi beban virus, pengikatan dengan antibodi terhadap spike membuatnya lebih mudah untuk menengahi ADE.

3. Memanfaatkan beberapa inhibitor

Misalnya, protease inhibitor dan Fc inhibitor masing-masing berperan dalam penghambatan ADE di MERS-CoV dan SARS-CoV (Liu et al., 2019; Wan et al., 2020) (3).


TYPE ADE

ADE dikategorikan menjadi 2 jenis berdasarkan mekanisme molekular yang terlibat :

1. ADE melalui infeksi yang meningkat

Tingkat infeksi target sel yang lebih tinggi muncul karena antibody-dependent manner yang di mediasi oleh interaksi Fc dengan FcR. ADE karena infeksi yang meningkat biasanya diukur menggunkan tes in vitro yang mendeteksi ketergantungan antibodi infeksi sel yang mengekspresikan FcyRIIa, seperti monosit dan makrofag (2).


2. ADE melalui peningkatan aktivasi kekebalan

Disebabkan oleh perantara Fc yang berlebihan fungsi efektor dan pembentukan kompleks imun yang bergantung pada antibodi. Antibodi yang berhubungan dengan penyakit yang meningkat seringkali tidak dapat menetralkan. ADE jenis ini biasanya diperiksa secara in vivo dengan mendeteksi penyakit yang diperburuk gejala yang terkait infeksi pernafasan. Contoh dari ADE jenis ini terdapat pada RSV dan campak (2).


MEKANISME TERBENTUKNYA ADE

Hingga saat ini, mekanisme molekuler dibalik ADE masih sulit dipahami. Disini kami mengidentifikasi mekanisme untuk ADE : antibodi penetral mengikat protein spike permukaan virus corona seperti reseptor virus, memicu perubahan konformasi spike, dan memediasi masuknya virus kedalam sel pengekspres reseptor IgG Fc melalui jalur dependent reseptor kanonikal virus (1).

Dalam studi ini, kami menyelidiki bagaimana penetral antibodi monoklonal (MAb), yang menargetkan receptor binding domain (RBD) dari Middle east respiratory syndrome (MERS) memediasi masuknya virus menggunakan entri preudovirus dan uji bikokimia. Hasilnya menunjukkan bahwa MAb mengikat spike permukaan virus, memungkinkanya terjadi perubahan konformasi dan menjadi rentan terhadap aktivitas preteolitik. Sementara itu, MAb mengikat permukaan sel reseptor IgG Fc, memandu masuknya virus melalui jalur reseptor virus kanonik. Data kami menunjukkan bahwa kompleks antibodi/reseptor Fc berfungsi meniru reseptor virus dalam memediasi masuknya virus (1).


PEMBAHASAN

Antibody Dependent Enhancement (ADE) terjadi ketika antibodi memfasilitasi virus masuk ke sel inang dan meningkatkan infeksi virus di sel-sel . ADE telah diamati untuk berbagai virus, terutama flavivirus seperti dengue. Apabila pasien terinfeksi oleh satu serotipe virus dengue infeksi primer, mereka menghasilkan antibodi penetral yang menargetkan serotipe virus yang sama. Namun, jika kemudian mereka terinfeksi oleh serotipe virus dengue lain (mis. Infeksi sekunder), antibodi yang sudah ada sebelumnya tidak dapat sepenuhnya menetralkan virus. Maka dibentuknya antibodi subnetralisasi/ antibodi penawar yang bertanggungjawab atas ADE virus ini. Antibodi penawar sepenuhnya meniru fungsi reseptor virus dalam memediasi masuknya virus kedalam sel pengekspres reseptor Fc (1).

Beberapa penelitian menunjukkan ADE dipicu oleh spike SARS-CoV meningkatkan masuknya virus kedalam sel yang mengekspresikan resptor Fc. Telah lama diketahui, bahwa imunisasi kucing dengan feline coronavirus menyebabkan infeksi yang lebih buruk dimasa mendatang karena induksi peningkatan infeksi antibodi. Namun, mekanisme molekuler rinci untuk ADE virus corona hingga saat ini masih belum diketahui (1).


KESIMPULAN

Dari penelitian sebelumnya tentang ADE pada virus corona lain, khususnya SARS-CoV dan MERS-CoV, keberadaan ADE akan mengakibatkan cedera tubuh yang lebih parah, sekaligus justru menurunkan jumlah virus pada saat yang bersamaan. Ini dapat mempengaruhi hasil terapi vaksin. Adanya fenomena ini pada virus corona menunjukkan potensi risiko dalam terapi vaksin untuk virus corona baru SARS-CoV-2, karena memiliki reseptor virus yang sama dan urutan genom yang serupa dengan SARS-CoV (3).




DAFTAR PUSTAKA

(1) Journal of Virology, American Society for Microbiology “Molecular Mechanism for Antibody – Dependent Enhamcement for Coronavirus Entry“

(2) PERSPECTIVE, Nature Microbiology “Antibody - Dependent Enhancement and SARS-CoV-2 Vaccines and Therapies“

(3) International Journal of Infectious Diseases, ELSEVIER “Antibody - Dependent Enhancement of Coronavirus”

https://pdf.sciencedirectassets.com



3 views0 comments

Recent Posts

See All

PAROSMIA DAN PANTHOSMIA

PENGERTIAN Parosmia Parosmia adalah istilah medis untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau distorsi indera penciuman. Seseorang dengan Parosmia masih memungkinkan untuk dapat

  • Facebook
  • Instagram

©2020 by Gandasari Ekasatya