Search
  • Gandasari Ekasatya

Benarkah Kekurangan Zinc Bisa Mempengaruhi Kondisi COVID-19?

COVID-19 merupakan penyakit yang penularannya sangat cepat. Meski beberapa waktu terakhir ada peningkatan jumlah pasien yang sembuh, pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Selain penerapan protokol kesehatan, konsumsi suplemen juga sangat penting di masa pandemic ini. Zinc merupakan salah satu suplemen yang bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan imun melawan COVID-19. Bagaimana zinc bisa meningkatkan imun untuk melawan COVID-19?



Zinc adalah mineral yang mempunyai fungsi penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan jaringan tubuh. Menurut European Journal of Immunology, asupan zinc dalam tubuh berguna untuk mengaktifkan sel T (limfosit T). Sel tersebut bekerja dengan dua cara, yaitu mengendalikan respon imun dan menyerang sel yang membawa kuman penyebab penyakit. Zinc diberikan kepada pasien COVID-19 untuk membantu tubuh menghambat replikasi virus(1,6).


Zinc juga berpotensi meningkatkan aktivitas sitotoksik sel NK yang berperan dalam membunuh sel yang terinfeksi, sehingga mikroorganisme penyebab infeksi dapat dihancurkan melalui fagositosis oleh neutrofil dan makrofag. Itu sebabnya, jika tubuh kekurangan asupan zinc, sistem imun akan terganggu dan tubuh lebih rentan terinfeksi virus penyebab penyakit(2).


Sayangnya zinc masih jarang diketahui manfaatnya sehingga sering kali diabaikan. Kekurangan zinc menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) termasuk peningkatan risiko perburukan infeksi COVID-19. Sebuah penelitian di India menunjukkan bahwa 57,4% pasien COVID-19 menunjukkan kadar zinc yang lebih rendah (74,5 mg/dL) dibandingkan dengan pasien sehat (105,8 mg/dL)(3).


Berbagai penelitian pun juga mengungkapkan bahwa suplemen zinc dapat melindungi tubuh dari infeksi saluran pernapasan. Salah satunya adalah studi yang dilakukan pada 2019, terhadap 64 anak-anak yang dirawat di rumah sakit, dengan infeksi saluran pernapasan bawah akut. Hasilnya, mereka yang menerima 30 miligram zinc per hari, sembuh 2 hari lebih cepat, dibanding yang tidak mendapatkan suplemen zinc(1).


Penelitian baru yang dipresentasikan pada Konferensi ESCMID 2020 tentang Penyakit Coronavirus (ECCVID) menunjukkan bahwa kadar zinc plasma dasar yang lebih rendah dikaitkan dengan hasil kelangsungan hidup yang lebih buruk pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19(4).


Studi oleh Dr Roberto Güerri-Fernandez, Hospital Del Mar, Barcelona, ​​​​Spanyol, dan rekan, melibatkan analisis retrospektif pasien COVID-19 bergejala yang dirawat di rumah sakit universitas tersier di Barcelona, ​​​​Spanyol dari 15 Maret hingga 30 April 2020. Pasien dengan kadar zinc pada plasma kurang dari 50mcg/dl memiliki 2,3 kali peningkatan risiko kematian dibandingkan dengan pasien dengan kadar zinc pada plasma 50mcg/dl atau lebih tinggi(4).


Kebutuhan asupan zinc harian bagi tubuh adalah sebesar 11 mg/hari untuk laki-laki dewasa dan 9 mg/hari untuk perempuan dewasa. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, zinc dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan seperti tiram, daging merah, ayam, kacang-kacangan, biji-bijian, gandum, maupun sediaan multivitamin dan mineral(5).


Sumber :

(1)https://www.halodoc.com/artikel/tingkatkan-imun-dengan-zinc-dan-vitamin-c-untuk-cegah-covid-19

(2) Brasiel, Poliana Guiomar de Almeida. 2020. The key role of zinc in elderly immunity: A possible approach in the COVID-19 crisis. Clinical Nutrition ESPEN. 38, 65-66

(3)Dickerman, B. dan Liu, J. 2011. Do the micronutrients zinc and magnesium play a role in adult depression?. Topics in Clinical Nutrition. 26, 257-267

(4)https://www.univadis.co.uk/viewarticle/eccvid-2020-lower-plasma-zinc-levels-associated-with-increased-risk-of-death-in-covid-19-patients-729760

(5)Jothimania, D., Kailasamb, E., Danielraja, S., Nallathambia, B., Ramachandrana, H., Sekar, P et al., 2020. COVID-19: Poor outcomes in patients with zinc deficiency. International Journal of Infectious Diseases. 100, 343-349

2 views0 comments