Search

C-Reactive Protein Sebagai Pemeriksaan Biomarker pada Penderita Covid -19


Seperti kita ketahui bersama, Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh Coronavirus jenis baru SARS-CoV-2 dan sering ditandai dengan peningkatan respons imun akibat radang/ inflamasi. Salah satu cara untuk mengetahui adanya radang adalah dengan pemeriksaan CRP (C-Reactive Protein).


Pemeriksaan ini dikenal sebagai penanda/ biomarker peradangan akut, tetapi banyak studi yang menunjukkan bahwa CRP juga diketahui terkait dengan peradangan kronis. Sebagai penanda inflamasi nonspesifik, CRP memainkan peran penting dalam pemantauan infeksi bakteri, peradangan, neurodegeneration, cedera jaringan, dan pemulihan. CRP dianggap sebagai biomarker sensitif terhadap infeksi, peradangan, dan kerusakan jaringan. Selama respon inflamasi akut, kadar CRP meningkat dengan cepat.


Pada penderita infeksi COVID-19 berat umumnya karena mengalami SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dengan gejala demam, mudah lelah, sakit kepala, nyeri otot, batuk, dan sesak napas pada kondisi itu terjadi proses inflamasi pada saluran pernafasan, namun apabila inflamasi berlebihan dapat mengakibatkan kematian. Inflamasi sebenarnya merupakan mekanisme tubuh yang penting untuk melindungi diri dari benda asing. Selama proses ini, sel melepaskan berbagai sitotoksin pro-inflamasi, termasuk protein fase aktif seperti CRP (C-Reactive Protein) dan fibrinogen. Kemudian, peningkatan kadar fibrinogen selanjutnya menjadi faktor yang meningkatkan Kadar Laju Endap Darah (LED).


CRP memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dan muncul lebih cepat daripada LED selama inflamasi. Berdasarkan kondisi karena pasien COVID-19 sering mengalami inflamasi, maka pemeriksan LED dan CRP sering dilakukan terhadap mereka. Penelitian di China menyatakan bahwa pasien yang telah terkonfirmasi COVID-19, ditemukan bahwa protein CRP dan LED memiliki peningkatan presentase yang relatif signifikan. Untuk mengetahui apakah seseorang sudah tertular virus SARS-CoV-2, maka ada pemeriksaan skrining berupa pemeriksaan hematologi dan (CRP). Bila limfosit rendah dengan neutrofil normal atau meningkat sehingga rasio neutrofil/limfosit (NLR) tinggi maka hasil tersebut mendukung kemungkinan adanya infeksi SARS-CoV-2 dengan penegasan pemeriksaan CRP yang hasilnya akan meningkat bersama dengan gejala peradangan.



Sumber :

https://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/

http://journal.thamrin.ac.id/index.php/anakes/article/view/660

https://www.abclab.co.id/pemeriksaan-laboratorium-pada-penyakit-covid-19/

15 views0 comments