Search
  • Gandasari Ekasatya

EFEK NOCEBO DALAM KAITANNYA DENGAN KECEMASAN MASYARAKAT ATAS PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA

Updated: Mar 29

Frekuensi kejadian buruk dapat meningkat secara dramatis dengan memberi tahu pasien tentang kemungkinan efek samping pengobatan, dan dengan ekspektasi negatif di pihak pasien. Hal tersebut disebut dengan efek nocebo, berasal dari bahasa Latin "I will harm" mengacu pada induksi atau perburukan gejala yang disebabkan oleh terapi palsu atau terapi aktif. Istilah nocebo diciptakan oleh Walter Kennedy pada tahun 1961.





Hal ini merupakan fenomena yang mengacu pada efek nonfarmakologis, berbahaya atau tidak diinginkan yang terjadi setelah terapi aktif atau tidak aktif. Efek nocebo telah dilaporkan pada beberapa penyakit neurologis seperti migrain, epilepsi, multiple sclerosis, penyakit Parkinson dan nyeri neuropatik, dan pada pasien dengan depresi. Efek nocebo terjadi ketika zat inert menciptakan efek menguntungkan atau merugikan pada orang yang meminumnya. Demikian pula, respons nocebo dapat terjadi dengan zat inert atau noninert sebagai perburukan kondisi yang didiagnosis atau sebagai efek samping yang muncul akibat pengobatan. Efek nocebo mencerminkan perubahan dalam psikologi manusia yang melibatkan otak, tubuh, dan perilaku daripada toksisitas obat. Efek nocebo yang telah ditemui baik dalam pengaturan klinis dan penelitian, terjadi ketika efek negatif muncul dari ekspektasi negatif pasien.


Efek nocebo sangat umum di antara penyakit neurologis yang mengakibatkan rendahnya kepatuhan dan hasil pengobatan. Dalam kondisi medis ini, beberapa neurotransmitter telah diidentifikasi. Studi di bidang nyeri mengusulkan tiga mekanisme untuk menjelaskan efek nocebo: ekspektasi, pengkondisian, dan kecemasan antisipatif. Harapan terbukti ketika orang tersebut mengharapkan bahwa obat tersebut akan gagal atau tidak bekerja. Mekanisme pengkondisian terbukti ketika pasien mengalami hasil negatif dengan obat lain sebelumnya.

Dampak negatif dari efek Nocebo Sosial (Prunas, 2012) mengacu pada Global Severity Index di antaranya adalah:


1. Penurunan daya tahan tubuh. Individu yang tadinya cukup sehat, mengalami sistem imunitas / kekebalan tubuh yang menurun karena reaksi emosi yang tidak disadari dan tidak dapat dikendalikan. Apabila hal ini tidak segera diantisipasi dengan gizi dan asupan multivitamin maka diperkirakan individu tersebut berpeluang menjadi sakit.

2. Psikosomatis – Gangguan fisiologis yang disebabkan oleh tekanan psikologis akibat ketidakpastian dampak sosio-ekonomi yang dirasakan secara langsung maupun tidak, misalnya: GERD, Alergi, Migrain, Maag, dan lain-lain.

3. Paranoid dan gangguan Psikosis lainnya, misalnya Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Individu yang mengalami ini disarankan untuk direferensikan pada dokter psikiatri.11).


Melalui berbagai saluran media komunikasi, baik media elektronik maupun media cetak berbagai pemberitaan mengenai Covid-19 sejak meluasnya info ditemukannya virus Covid-19 hingga hari ini sudah sampai titik akumulasi yang sangat jenuh. Suka tidak suka kita dihadapkan dengan berbagai informasi yang hadir tanpa lagi mampu dikendalikan. Derasnya arus informasi yang bersumber dari media sosial tak mampu diredam, sehingga apabila kondisi seperti ini tidak segera disadari, dapat berakibat buruk pada diri individu.

Yang pada mulanya masyarakat Indonesia yakin bahwa Indonesia bebas Covid-19, seketika keyakinan tersebut runtuh ketika Presiden RI secara resmi mengumumkan terdapat dua warga Indonesia yang positif terpapar Covid-19 pada awal Maret 2020 lalu. Setelah itu terjadi perubahan konteks yang begitu dramatis mengubah tatanan pola berkehidupan negara dan organisasi. Kebijakan #SchoolFromHome dan #WorkFromHome kemudian dilanjutkan dengan kebijakan social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menyikapi berbagai berita mengenai Covid-19, respon perilaku masyarakat sangat beragam mulai dari yang memperhatikan A sampai Z mengenai pandemi Covid-19 dengan berburu masker dan antiseptik di apotik atau toko online, hingga ada pula masyarakat yang dengan kepanikannya mereka spontan memborong berbagai kebutuhan pokok sebagai antisipasi dari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, disamping itu ada juga masyarakat yang memilih acuh menjalankan rutinitas seperti sediakala, tanpa mengindahkan fakta bahwa sedang terjadi pandemic Covid-19 di Indonesia.


Sejak awal diumumkan bahwa terdapat dua warga Indonesia yang positif terpapar Covid-19, persebaran virus Covid-19 ini mengalami peningkatan hingga saat ini dan belum diketahui apakah Indonesia sudah mampu menekan dan mengendalikan persebaran paparan virus, atau kita saat ini masih berjuang dalam fase masa kritis karna pada kenyataannya peningkatan jumlah pasien yang terpapar dan jumlah korban meninggal lebih besar daripada jumlah pasien yang sembuh.


Pasien yang terpapar virus Covid-19 mendapatkan penanganan awal sesuai dengan protokol kesehatan standar, tetapi meski hal itu sudah didapatkan oleh pasien tetap saja kembali pada bagaimana seorang individu memberikan makna terhadap apa yang sedang dialaminya, melibatkan sebuah rangkaian proses penilaian atau judgement yang berasal dari persepsi individu tersebut. Ada individu yang yakin bahwa dirinya mampu melawan ganasnya virus dengan cara meyakinkan dirinya atau ‘self affirmation,’ bahwa ia mampu menghadapi masa karantina mandiri., Iia sangat percaya bahwa dengan fokus dan disiplin menjalankan protokol kesehatan selama 14 hari ia mampu mengusir virus Covid-19 dari tubuhnya, dan hal ini terbukti benar, setelah menjalankan tes sejumlah 2 kali maka ia dinyatakan negatif virus Covid-19. Pada individu lain, ketika dinyatakan terpapar Covid-19, kondisi ini baginya seakan vonis mati, walaupun sebenarnya tidak demikian. Ia mengindahkan protokol kesehatan yang wajib dilakukan, tapi lebih dipengaruhi oleh pikiran akan bayangan negatif dampak dari virus Covid-19 yang ia lihat di berbagai negara di dunia. Akibatnya, ia yang tadinya relatif cukup sehat, mendapati keluhan sesak napas yang tadinya mulai hilang, sehingga ia harus menjalankan isolasi di rumah sakit.


Apa yang dialami kedua individu pasien tersebut di awal serupa, yakni fakta bahwa keduanya terpapar virus Covid-19, yang menjadi pembedanya adalah reaksi atau respon perilaku kedua orang tersebut. Pasien A lebih memilih untuk menerima kondisi dan berusaha untuk mengalahkan Covid-19 dan berpikiran positif dengan menjalankan secara konsisten dan disiplin protokol kesehatan yang diberikan dokter. Perilaku positif pasien A adalah dampak dari sugesti yang disebut dengan placebo, memiliki arti ‘saya akan senang’ (berasal dari bahasa latin), sugesti tersebut pada akhirnya membantunya untuk sembuh. Sedangkan Pasien B, kecil hati dan merasa tidak yakin mampu menghadapi Covid-19 walaupun dengan protokol kesehatan yang sudah direkomendasikan sekalipun. Perilaku pasien B berdampak dari sugesti negative yang disebut nocebo, dalam bahasa latin berarti ‘saya akan terluka’.


Strategi mengelola dampak negatif efek nocebo dalam kaitan dengan kondisi kecemasan masyarakat atas pandemi Covid-19


Persepsi masyarakat yang timbul akibat informasi dari media yang terfokus pada akibat fatal dari Covid-19 membentuk sugesti negatif yang terus terakumulasai masuk ke alam bawah sadar individu. Individu kesulitan menyaring sumber yang layak dipercaya dan yang tidak. Hubungan timbal balik antara kecemasan dan pencarian informasi yang cenderung negatif, menciptakan sebuah siklus yang memperburuk kondisi psikologis dan dapat memicu kondisi psikosomatis. Ketidakpastian akan periode pandemi dan minimnya informasi positif yang beredar baik di dalam maupun di luar negeri, memberikan akumulasi sugesti negatif bagi masyarakat sehingga rentan mengalami efek Nocebo. Merujuk kepada hal tersebut, berikut ini adalah bagaimana strategi mengelola dampak negatif efek nocebo pada individu.


1. Batasi frekuensi mengakses informasi yang Anda prediksi akan memberikan dampak negatif. Hanya diri kita sendiri yang dapat mengukur kapasitas kemampuan kita.

2. Latih diri sendiri untuk melakukan sugesti dengan menerapkan self fullfilling prophecy melalui afirmasi positif, yaitu apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, maka kita yakinkan, lalu kita lakukan dan latih untuk menjadi kebiasaan.

3. Segerakan membuat daftar aktivitas pelampiasan yang konstruktif atau Chatarsis dalam rumah bersama keluarga atau bersama komunitas melalui online. Dengan hobi yang sudah lama ditinggalkan karena kesibukan kerja atau sekolah, misalnya bermain musik, diskusi online bersama komunitas, menulis, melukis, memasak dan lain-lain.

4. Konsumsi multivitamin sebagai antisipasi respon adaptif tubuh secara fisiologis menghadapi situasi psikologis pandemi ini. Asupan multivitamin akan meningkatkan imunitas dan membangun sistem kekebalan tubuh secara alami.

5. Lakukan aktivitas #WFH dan #SFH secara konstruktif dengan menjaga pola pikir positif. Buat daftar kegiatan harian sesuai dengan prinsip prioritas, berdasarkan keterdesakan waktu atau urgency dan prinsip kepentingan / importancy.

6. Lakukan protokol kesehatan dengan tindakan preventif yang nyata, melalui cara istirahat cukup, gunakan masker apabila keluar rumah, berjemur di bawah sinar matahari, dan selalu mencuci tangan sesering mungkin selepas dari aktivitas di luar rumah, maupun sebelum makan dan minum.


REFERENSI

Avicenna Journal of Medicine “Minimizing nocebo effect: Pragmatic approach”

Oleh : Majed Chamsi-Pasha, Mohammed Ali Albar, dan Hassan Chamsi-Pasha

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5655643/


LM FEB UI: Strategi Kelola Efek Sosial Nocebo Sebagai Akumulasi Pemberitaan Covid-19

https://www.feb.ui.ac.id/en/blog/2020/04/18/lm-feb-ui-strategi-kelola-efek-sosial-nocebo-sebagai-akumulasi-pemberitaan-covid-19/


http://www.intipesan.com/23065-2/#.XpRlUvEdBjU.whatsapp

70 views0 comments