Search
  • Gandasari Ekasatya

PERBEDAAN ANTARA SARS-CoV-1 DAN SARS-CoV-2

Seperti yang sudah diketahui bahwa pandemi COVID-19 saat ini disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pada tahun 2002 juga pernah terjadi pandemi yang diketahui disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 1 (SARS-CoV-1). Artikel ini akan membahas perbedaan antara severe acute respiratory syndrome coronavirus 1 (SARS-CoV-1) dan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Akan kami ulas terlebih dulu bagaimana pandemi yang pernah terjadi oleh sebab severe acute respiratory syndrome coronavirus 1 (SARS-CoV-1) pada tahun 2002.





Wabah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 1 (SARS-CoV-1)

Bermula pada 16 November 2002, wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) dimulai di provinsi Guangdong China (berbatasan dengan Hong Kong), wabah pertama ini menyerang orang-orang di industri makanan, seperti petani, pedagang pasar, dan koki yang kemudian menyebar ke petugas kesehatan setelah orang-orang tersebut mencari perawatan ke fasilitas kesehatan. Lebih dari 8.000 orang dari 29 negara dan wilayah berbeda terinfeksi, dan setidaknya 774 meninggal di seluruh dunia. Bagian utama dari wabah ini berlangsung sekitar 8 bulan, sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan SARS sudah ada pada tanggal 5 Juli 2003 dan beberapa kasus SARS dilaporkan hingga Mei 2004. SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2

Coronavirus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 memiliki lebih dari 70% kesamaan genetik dengan SARS-CoV-1. Adapun persamaan karakteristik umum dari keduanya yaitu reseptor sel inang untuk masuknya virus merupakan reseptor ACE2, badai sitokin merupakan manifestasi jaringan yang terjadi setelah infeksi, gejala yang timbul akibat infeksi baik SARS-CoV-1 maupun SARS-CoV-2 tidak terlalu spesifik seperti demam, sakit kepala dan juga kelelahan.


Terlepas dari kesamaan antara SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2, perawatan terapeutik cukup berbeda, utamanya pada tahap pertama infeksi. Pada SARS-CoV-1, perawatan untuk tahap pertama infeksi adalah dengan Antibioterapi yang diresepkan oleh dokter umum (terutama sebelum diagnosis SARS): makrolida, sefalosporin generasi ke-3, dan antipneumokokus kuinolon; penggunaan masker; serta pemberian obat antivirus: ribavirin, lopinavir.


Sedangkan perawatan untuk tahap pertama infeksi SARS-CoV-2 adalah pemberian obat antipiretik: parasetamol serta melakukan karantina. Selain itu, hingga kini uji klinis terus dilakukan demi menemukan perawatan terbaik untuk menangani infeksi SARS-CoV-2 seperti agen antimalaria: hydroxychloroquine, obat antibakteri makrolida: azitromisin, obat antivirus: remdesivir, lopinavir / ritonavir dan juga plasma konvalesen.


Selain perbedaan dari segi perawatan terhadap infeksi, terdapat perbedaan pula dari segi penularan antara SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2. Suatu studi yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine menunjukkan kemungkinan penularan aerosol SARS-CoV-2. Meskipun pada awal pandemi menurut WHO SARS-CoV-2 hanya dapat ditularkan melalui permukaan yang terkontaminasi atau melalui tetesan yang berada dalam jarak satu meter, beberapa kasus juga menunjukkan kemungkinan penularan aerosol di lingkungan kecil dan tertutup. Dalam jurnal tersebut diungkapkan bahwa SARS-CoV-2 dapat bertahan di udara selama tiga jam, dengan penurunan yang serupa dalam tingkat penularannya seperti yang terjadi pada SARS-CoV-1, dan bahwa sifat SARS-CoV-2 sangat mirip dengan SARS-CoV-1 dalam hal pembentukan dan stabilitas partikel udara. Namun, afinitas terhadap reseptor SARS-CoV-2 pada manusia sepuluh kali lebih tinggi daripada SARS-CoV-1.





Studi lain yang dilakukan untuk menentukan kemungkinan mode penularan virus menyelidiki sekelompok kasus SARS-CoV-2 yang terkait dengan pusat perbelanjaan di China. Studi tersebut menemukan bahwa penularan virus tidak langsung terjadi, kemungkinan besar disebabkan oleh objek yang terkontaminasi, atau melalui aerosolisasi virus atau oleh orang yang terinfeksi tanpa gejala. Ini juga menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 mungkin juga menyebar melalui rute udara dan tetap menular hingga satu jam setelah aerosolisasi.




REFERENSI

EUROPEAN SCIENCE-MEDIA HUB

“ The differences between SARS-CoV-1 and SARS-CoV-2 “

https://sciencemediahub.eu/2020/04/23/the-differences-between-sars-cov-1-and-sars-cov-2/


European Review for Medical and Pharmacological Sciences

“ SARS-CoV-2 vs. SARS-CoV-1 management: antibiotics and inflammasome modulators potentia “

https://www.europeanreview.org/wp/wp-content/uploads/7880-7885.pdf

1,587 views1 comment